085762369315 omelindotcom@gmail.com

Sastrawan

Putu Wijaya merupakan seorang sastrawan asal Indonesia. Lahir dengan nama I Gusti Ngurah Putu Wijaya merupakan seorang sastrawan.┬áBeberapa karyanya antara lain “Telegram”, “Tiba-Tiba Malam”, “Bila Malam Bertambah Malam”, “Plot”, “Klop”, “Intrik”, “Nol”, “Dang Dut”, “Sobat”, “Dar Der Dor” dan lain-lain.┬áTulisan pertamanya berjudul “Etsa” yang berupa sebuah cerpen dan dimuat di Harian Suluh Indonesia, Bali. Sampai sekarang beberapa tulisannya telah dimuat di beberapa media cetak seperti Harian Kompas dan Sinar Harapan.

 

Kita jangan sampai kagum pada bayangan kita sendiri, kadang-kadang bayangan itu tinggi besar jika matahari condong, padahal tubuh kita sebenarnya tetap kecil.

Kalau ini karena uang, memalukan. Kalau ini karena wanita, aib namanya, kalau ini karena kenakalan, bodoh. Kalau ini karena tidak ada kerjaan lain, lebih bodoh lagi.

Tak ada tikus yang tidak berkumis. Tak ada keuntungan yang datang gratis, semuanya harus dibayar.

ya tidak bilang teori itu tidak perlu. Praktek itu memang berdasarkan teori. Tetapi praktek itu bukan semata-mata teori yang dipraktekkan, ini hidup bukan buku yang gampang diatur.

Segala aturan dan beban itu memang disengaja. Itu sudah merupakan paket, agar tingkah laku jadi selalu laras dan terkendali. Tekanan adalah juga kendali.

Dalam tersesat kamu diasah untuk mempertimbangkan apa yang sudah kamu putuskan, dan menambah apa yang selama ini tidak pernah kau pikirkan.

Ini buktinya. Kalau tidak adil memang begini. Semua orang bisa gila.

Bahwa harmoni adalah yang paling utama dalam kehidupan, walaupun kadang tidak rasional.

Hidup ini bukan hadiah, tetapi utang yang harus kita tebus dengan keringat.

Surga itu terletak di rumah kita, bukan di tempat orang lain.

Seperti rumah, yang menjadi semakin rumah ketika ditinggalkan, begitulah cinta, menjadi semakin cinta sesudah hilang.

Pertapaan bisa memuncak justru disaat-saat main-main.

Hidup bukan untuk makan. Makan juga tidak untuk hidup, orang hidup harus makan, orang makan harus hidup.

Orang gila tak perlu berpikir, sebab dia tahu tak ada

Manusia walaupun jasmaninya kelihatan seperti kelebihan, tetapi budayanya membuat ia tetap mengikuti kewajaran.

Mereka mengira tersesat itu selalu berarti salah, padahal tersesat itu adalah jalan untuk menemukan kebenaran yang lebih sejati.

Di zaman edan ini, siapa yang tidak frustrasi? Kalau kamu ikutkan perasaanmu, kamu akan gila. Tetapi, semua orang memang sudah gila. Kamu tidak akan menjadi istimewa karena menjadi gila.

Tiap-tiap orang mempunyai sudut terbaiknya yang berbeda dengan orang lain, nah sudut pandang itu yang harus kita temukan

Seperti rumah, yang menjadi semakin rumah ketika ditinggalkan, begitulah cinta, menjadi semakin cinta sesudah hilang.